Saturday, 18 January 2014

pelapisan sosial di RT saya

Pelapisan sosial adalah golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran tertentu .Pelapisan sosial adalah gejala yang bersifat universal atau keseluruhan . Di dalam masyarakat mana pun, pelapisan sosial selalu ada . Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi menyebut bahwa selama dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai, maka dengan sendirinya pelapisan sosial terjadi. Sesuatu yang dihargai dalam masyarakat bisa berupa harta kekayaan, ilmu pengetahuan, atau kekuasaan , dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelapisan sosial adalah pembedaan antar warga dalam masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial secara berkasta. Wujudnya bisa dilihat dalam lapisan-lapisan masyarakat diantaranya ada kelas sosial tinggi, sedang dan rendah.
Pelapisan sosial merupakan perbedaan tinggi dan rendahnya kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompoknya, bila dibandingkan dengan posisi seseorang maupun kelompok lainnya. Dasar tinggi dan rendahnya lapisan sosial seseorang itu disebabkan oleh bermacam-macam perbedaan, seperti kekayaan di bidang ekonomi, nilai-nilai sosial itu .

Dilingkungan saya beragam lapisan sosial, dari masyarakat yg semi modern sampai yang modern. Sudah banyak yanga memiliki mobil pribadi hingga rumah yang memiliki tingkat. Namun tak sedikit yang masih hidup sederhana saja, tidak terlalu mewah.

Nama   : Aditya Eka
Kelas.   : 1IA19
TUGAS ISD

Friday, 17 January 2014

Konflik Batin

Apa itu konflik batin? Berikut penjelasannya.

  Konflik Batin
Hardjana (1994: 23) mengemukakan bahwa konflik terjadi manakala hubungan antara dua orang atau dua kelompok, perbuatan yang satu berlawanan dengan perbuatan yang lain, sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu. Konflik adalah percekcokan, perselisihan atau pertentangan. Dalam sastra, diartikan bahwa konflik merupakan ketegangan atau pertentangan di dalam cerita rekaan atau drama yakni pertentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri satu tokoh, pertentangan antara dua tokoh, dan sebagainya. Pengertian konflik batin menurut Alwi, dkk. (2005: 587) adalah konflik yang disebabkan oleh adanya dua gagasan atau lebih, atau keinginan yang saling bertentangan untuk mengusai diri sehingga mempengaruhi tingkah laku. Selain itu, Irwanto (dalam Fitriannie, 1997: 207) menyebutkan pengertian konflik adalah keadaan munculnya dua atau lebih kebutuhan pada saat yang bersamaan. Pendapat lain mengenai jenis konflik disebutkan oleh Kurt Lewin (1997: 213-216), bahwa konflik mempunyai beberapa bentuk, antara lain sebagai berikut.
-          Konflik mendekat-mendekat (approach-aproach conflict)
Konflik ini timbul jika suatu ketika terdapat dua motif yang kesemuanya positif (menyenangkan atau menguntungkan) sehingga muncul kebimbangan untuk memilih satu di antaranya.
-          Konflik mendekat-menjauh (approach -avoidance conflict)
Konflik ini timbul jika dalam waktu yang sama timbul dua motif yang berlawanan mengenai satu objek, motif yang satu positif (menyenangkan), yang lain negatif (merugikan, tidak menyenangkan). Karena itu ada kebimbangan, apakah akan mendekati atau menjauhi objek itu.
-          Konflik menjauh-menjauh (avoidance-avoidance conflict)
Konflik ini terjadi apabila pada saat yang bersamaan, timbul dua motif yang negatif, dan muncul kebimbangan karena menjauhi. motif yang satu berarti harus memenuhi motif yang lain yang juga negatif. Umumnya, konflik dapat dikenali karena beberapa ciri, yaitu 1) Terjadi pada setiap orang dengan reaksi berbeda untuk rangsangan yang sama. Hal ini bergantung pada faktor-faktor yang sifatnya pribadi. 2) Konflik terjadi bilamana motif-motif mempunyai nilai yang seimbang atau kira-kira sama sehingga menimbulkan kebimbangan dan ketegangan. 3) Konflik dapat berlangsung dalam waktu yang singkat, mungkin beberapa detik, tetapi bisa juga berlangsung lama, berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun (Sobur, 2007: 293).
C.     Faktor-faktor Konflik Batin
Freud (dalam Kusumawati, 2003: 33) Menyatakan bahwa faktor-faktor yang memegang peranan penting dalam beberapa gangguan batin antara lain: 1) teori agresi, 2) teori kehilangan, 3) teori kepribadian, 4) teori kognitif, 5) teori ketidakberdayaan, dan 6) teori perilaku.
1)      Teori Agresi
Teori agresi menunjukan bahwa depresi terjadi karena perasaan marah yang ditujukan kepada diri sendiri. Agresi yang diarahkan pada diri sendiri sebagai bagain dari nafsu bawaan yang bersifat merusak. Untuk beberapa alasan tidak secara langsung diarahkan pada objek yang nyata atau objek yang berhubungan dengan perasaan berdosa atau bersalah. Prosesnya terjadi akibat kehilangan atau perasaan terhadap objek yang sangat dicintai.
2)       Teori Kehilangan
Teori kehilangan merujuk pada perpisahan traumatik individu dengan benda atau seseorang yang sebelumnya dapat memberikan rasa aman dan nyaman. Hal penting dalam teori ini adalah kehilangan dan perpisahan sebagai faktor predisposisi terjadinya depresi dalam kehidupan yang menjadi faktor pencetus terjadinya stress.
3)      Teori Kepribadian
Teori kepribadian merupakan konsep diri yang negatif dan harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan dan penilaian seseorang terhadap stressor. Pandangan ini memfokuskan pada varibel utama dari psikososial yaitu harga diri rendah.
4)      Teori Kognitif
Teori kognitif menyatakan bahwa depresi merupakan masalah kognitif yang didominasi oleh evaluasi negatif sesorang terhadap dirinya sendiri, dunia seseorang dan masa depannya. Individu dapat berpikir tentang dirinya secara negatif dan tidak mencoba memahami kemampuannya.
5)      Teori Ketidakberdayaan
Teori ketidakberdayaan menunjukkan bahwa konflik batin dapat menyebabkan depresi dan keyakinan bahwa seseorang tidak mempunyai kendali terhadap hasil yang penting dalam kehidupannya, oleh karena itu ia mengulang respon yang adaptif.
6)      Teori Perilaku
Teori perilaku menunjukkan bahwa penyebab depresi terletak pada kurangnya keinginan positif dalam berinteraksi dengan lingkungan. Depresi berkaitan dengan interaksi antara perilaku individu dengan lingkungan. Teori ini memandang bahwa individu memiliki kemampuan untuk memeriksa dan mempertimbangkan perilakunya. Mereka bukan hanya melakukan reaksi dari faktor internal. Individu tidak dipandang sebagai objek yang tidak berdaya yang dikendalikan lingkungan, tetapi tidak juga bebas dari pengaruh lingkungan dan melakukan apa saja yang mereka pilih tetapi antar individu dengan lingkungan memiliki pengaruh yang bermakna antar satu dengan yang lainnya.

Setelah melihat penjelasan tersebut, simaklah cerita saya berikut ini :)

Saya ingin bercerita sedikit tentang konflik batin yang saya alami semasa SMA, yaitu bingung dalam menentukan 2 jurusan.

Awal mulanya saya memang berniat untuk masuk jurusan Arsitektur seperti om saya. Saya berusaha sebelum Ujian nasional untuk mendapatkan hasil yang terbaik karena tekad saya waktu itu untuk masuk jurusan arsitektur di univ. indonesia, namun setelah ujian nasional, hasil yang saya dapat kurang maksimal, dan tidak dapat masuk ke universitas yg saya inginkan. Saya pun mulai bingung karena tidak bisa masuk univ. negeri.
Akhirnya saya berniat masuk ke univ gunadarma, namun saya merasakan konflik batin karena di gunadarma saya ingin juga masuk jurusan teknik informatika, dan pada akhirnya saya memilih jurusan TI.

TUGAS ISD
Nama              : Aditya Eka
Kelas              : 1IA19
NPM              : 50413231

Kenakalan Remaja

KENAKALAN REMAJA

Kenakalan remaja  (juvenile delinquency) adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau transisi masa anak-anak dan dewasa.
Sedangkan Pengertian kenakalan remaja Menurut Paul Moedikdo,SH adalah :
1. Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.
2. Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
3. Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
Faktor-faktor penyebab kenakalan remaja.
- reaksi frustasi diri
- gangguan berpikir dan intelegensia pada diri remaja
- kurangnya kasih sayang orang tua / keluarga
- kurangnya pengawasan dari orang tua
- dampak negatif dari perkembangan teknologi modern
- dasar-dasar agama yang kurang.
- tidak adanya media penyalur bakat/hobi
- masalah yang dipendam
- keluarga broken home
- pengaruh kawan sepermainan
-dll
Contoh / Jenis-jenis Kenakalan remaja :
- membolos sekolah
- kebut-kebutan di jalanan
- Penyalahgunaan narkotika
- perilaku seksual pranikah
- perkelahian antar pelajar
-dll
Tips untuk mencegah dan mengatasi kenakalan remaja
.
- Orang tua harus selalu memberikan dan menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada anaknya. Jadilah tempat curhat yang nyaman sehingga masalah anak-anaknya segera dapat terselesaikan.
- Perlunya ditanamkan dasar agama yang kuat pada anak-anak sejak dini.
- Pengawasan orang tua yang intensif terhadap anak. Termasuk di sini media komunikasi seperti televisi, radio, akses internet, handphone, dll.
- Perlunya materi pelajaran bimbingan konseling di sekolah.
- Sebagai orang tua sebisa mungkin dukunglah hobi/bakat anak-anaknya yang bernilai positif. Jika ada dana, jangan ragu-ragu untuk memfasilitasi hobi mereka, agar anak remaja kita dapat terhindar dari kegiatan-kegiatan negatif.
-dll

Tips untuk mencegah dan mengatasi kenakalan remaja

.
- Orang tua harus selalu memberikan dan menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada anaknya. Jadilah tempat curhat yang nyaman sehingga masalah anak-anaknya segera dapat terselesaikan.
- Perlunya ditanamkan dasar agama yang kuat pada anak-anak sejak dini.
- Pengawasan orang tua yang intensif terhadap anak. Termasuk di sini media komunikasi seperti televisi, radio, akses internet, handphone, dll.
- Perlunya materi pelajaran bimbingan konseling di sekolah.
- Sebagai orang tua sebisa mungkin dukunglah hobi/bakat anak-anaknya yang bernilai positif. Jika ada dana, jangan ragu-ragu untuk memfasilitasi hobi mereka, agar anak remaja kita dapat terhindar dari kegiatan-kegiatan negatif.
-dll

Batasan dan Jenis Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja merupakan tindakan melanggar peraturan atau hukum yang dilakukan oleh anak di bawah usia 18 tahun.

Perilaku yang ditampilkan dapat bermacam-macam, mulai dari kenakalan ringan seperti membolos sekolah, melanggar peraturan-peraturan sekolah, melanggar jam malam yang orangtua berikan, hingga kenakalan berat seperti vandalisme, perkelahian antar geng, penggunaan obat-obat terlarang, dan sebagainya.

Dalam batasan hukum, menurut Philip Rice dan Gale Dolgin, penulis buku The Adolescence,terdapat dua kategori pelanggaran yang dilakukan remaja, yaitu:

1. Pelanggaran indeks, yaitu munculnya tindak kriminal yang dilakukan oleh anak remaja. Perilaku yang termasuk di antaranya adalah pencurian, penyerangan, perkosaan, dan pembunuhan.

2. Pelanggaran status, di antaranya adalah kabur dari rumah, membolos sekolah, minum minuman beralkohol di bawah umur, perilaku seksual, dan perilaku yang tidak mengikuti peraturan sekolah atau orang tua.

Keluarga yang Memicu?

Menurut Karol Kumpfer dan Rose Alvarado, profesor dan asisten profesor dari University of Utah, dalam penelitiannya, menyebutkan bahwa kenakalan dan kekerasan yang dilakukan oleh anak dan remaja berakar dari masalah-masalah sosial yang saling berkaitan.

Di antaranya adalah kekerasan pada anak dan pengabaian yang dilakukan oleh orangtua, munculnya perilaku seksual sejak usia dini, kekerasan rumah tangga, keikutsertaan anak dalam geng yang menyimpang, serta tingkat pendidikan anak yang rendah.

Ketidakmampuan orangtua dalam menghentikan dan melarang perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak remaja akan membuat perilaku kenakalan terus bertahan. Faktor-faktor penyebab  munculnya kenakalan remaja, menurut Kumpfer dan Alvarado, Minggu (23/1/2011)
  1. Kurangnya sosialisasi dari orangtua ke anak mengenai nilai-nilai moral dan sosial.
  2. Contoh perilaku yang ditampilkan orangtua (modeling) di rumah terhadap perilaku dan nilai-nilai anti-sosial.
  3. Kurangnya pengawasan terhadap anak (baik aktivitas, pertemanan di sekolah ataupun di luar sekolah, dan lainnya).
  4. Kurangnya disiplin yang diterapkan orangtua pada anak.
  5. Rendahnya kualitas hubungan orangtua-anak.
  6. Tingginya konflik dan perilaku agresif yang terjadi dalam lingkungan keluarga.
  7. Kemiskinan dan kekerasan dalam lingkungan keluarga.
  8. Anak tinggal jauh dari orangtua dan tidak ada pengawasan dari figur otoritas lain.
  9. Perbedaan budaya tempat tinggal anak, misalnya pindah ke kota lain atau lingkungan baru.
  10. Adanya saudara kandung atau tiri yang menggunakan obat-obat terlarang atau melakukan kenakalan remaja.

Faktor lingkungan atau teman sebaya yang kurang baik juga ikut memicu timbulnya perilaku yang tidak baik pada diri remaja. Sekolah yang kurang menerapkan aturan yang ketat juga membuat remaja menjadi semakin rentan terkena efek pergaulan yang tidak baik.

"Guru yang kurang sensitif terhadap hal ini juga bisa membuat remaja menjadi semakin sulit diperbaiki perilakunya. Demikian juga dengan guru yang terlalu keras dalam menghadapi remaja yang bermasalah. Bisa jadi, bukannya ikut meredam kenakalan mereka, malah membuat kenakalan mereka semakin menjadi," ujar Prof. Arif Rachman, pakar pendidikan dari UNJ.

Sementara M Faisal Magrie, konsultan psikologi remaja dari Asosiasi Berbagi, menyatakan beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mencegah munculnya perilaku kenakalan pada anak remaja.          

Menurut Faisal, mengasuh anak yang memasuki usia remaja dapat diandaikan seperti bermain layangan. "Apabila orangtua menarik talinya terlalu dekat, layangan itu tidak akan bisa terbang. Namun bila orangtua membiarkan talinya terlalu jauh, layangan tersebut akan putus karena angin yang kencang, atau hal lain seperti menyangkut di pohon," kata Faisal.

Begitu juga dengan anak remaja, jika orangtua terlalu mengekang anak, yang terjadi adalah anak tidak mampu berkembang secara mandiri dan mereka akan berusaha untuk melepaskan dirinya dari kekangan orangtua. Ketika hal ini terjadi, lingkungan sosial, terutama teman sebaya, akan menjadi pelarian utama si anak.

Apabila ternyata lingkungan sosial tempat anak biasa berkumpul memiliki kecenderungan untuk melakukan kenakalan remaja, anak juga berpotensi besar untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan kelompoknya.

Hal yang sama juga dapat terjadi apabila orangtua terlalu membebaskan anak. Perbedaannya adalah, anak yang dibebaskan tidak merasakan tekanan sebesar apa yang dirasakan oleh anak yang dikekang, sehingga dorongan untuk memberontak cenderung lebih kecil dibandingkan anak yang dikekang.

Berikan batasan yang jelas. 

Orangtua disarankan untuk memberikan batasan yang jelas mengenai perilaku apa yang benar-benar tidak boleh dilakukan oleh anak, misalnya membolos, menggunakan narkoba, dan lain sebagainya.

Berdiskusilah untuk tawar menawar.

Lakukan tawar menawar melalui diskusi mengenai perilaku lainnya yang dianggap berpotensi membuat anak menjadi nakal, seperti pulang malam, menginap, atau bahkan memilih pacar.

Biarkan anak menentukan standar moralnya sendiri.
Proses tawar-menawar akan merangsang anak untuk menentukan standar moralnya sendiri. Di sisi lain hal ini dapat membuat anak lebih menghormati orangtuanya karena telah diberikan kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri.

Aktif berkomunikasi dengan guru di sekolah.
Pengawasan dan pemantauan orangtua di rumah bisa dilengkapi dengan pengawasan dari guru di sekolah. Pemantauan terpadu ini akan memberikan banyak masukan yang menyeluruh bagi orangtua mengenai perilaku anaknya di luar rumah.

Tak Ada Kata Terlambat


Menurut Faisal, tidak ada kata terlambat dalam menangani anak remaja yang terlihat 'melenceng'. Karena di usia ini teman adalah segalanya bagi anak, ia dapat dengan mudah terpengaruh oleh teman-teman sebayanya.

Untuk mengatasi hal ini, tindakan yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah dengan membuat kesan bahwa mereka bisa berdamai dengan pilihan anaknya. Dengan begini, orangtua tetap bisa mengawasi aktivitas dan pergaulan anaknya dengan pasif.

Namun, ada hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua berkaitan dengan hal tersebut. Ketika orangtua terlalu 'masuk' ke dalam kehidupan anak, pasti anak akan merasa terganggu privasinya. Ia akan merasa risih dan pada akhirnya justru bersikap tertutup kepada orangtuanya.

Untuk itu, orangtua harus mengusahakan agar tetap terlibat secara pasif, namun jangan sampai terkesan terlalu ingin ikut campur.

Friday, 8 November 2013

Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Anak




              Keluarga merupakan pendidik yang pertama dan utama dalam kehidupan anak, karena dari merekalah anak mendapatkan pendidikan untuk pertama kalinya serta menjadi dasar perkembangan dan kehidupan anak dikemudian hari. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan anak.

              Orang tua bertugas sebagai pengasuh, pembimbing,pemelihara dan sebagai pendidik terhadap anak-anaknya.Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya menjadi manusia yang pandai, cerdas dan berakhlak. Akan tetapi banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka mendidik membuat anak merasa tidak diperhatikan, dibatasi kebebasannya, bahkan ada yang merasa tidak disayang olehorang tuanya. Perasaan-perasaan itulah yang banyak mempengaruhi sikap, perasaan, Perasaan anak pun tergantung dengan sikap orang tua mendidiknya, ada yang denggan cara kasar ada yang dengan secara halus. Apabila dengan cara kasar, maka anak pun bisa mencontoh perilaku orang tuanya namun perilaku tersebut ia lakukan terhadap teman di lingkungannya.

A.   Pengertian Pola Asuh Orang Tua
             Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relatif konsisten dariwaktu kewaktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak,dari segi negatif dan positif. Orang tua memiliki cara danpola tersendiri dalam mengasuh dan membimbing anak.Cara dan pola tersebut tentu akan berbeda antara satukeluarga dengan keluarga yang lainnya. Pola tersebut lah yang mencirikan sikap orang tua terhadap anaknya. Dengan pola yang cerdas, maka dapat pula menjadikan seorang anak tersebut menjadi cerdas. 

B.   Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap Pembentukan Kepribadian Anak
            Sikap, perilaku, dan kebiasaan orang tua selalu dilihat, dinilai, dan ditiru oleh anaknya yang kemudian semua itu secara sadar atau tidak sadar akan diresapi kemudian menjadi kebiasaan pula bagi naka yang dididiknya. Anak-anak mudah menyerapa apa yang berada disekitarnya, tanpa menyaringnya, karena pola pikir anak masih sangat polos.

C.   Fungsi Pola Asuh Orang Tua untuk Anak
           1. Menjadikan anak mampu berpikir secara lebih dewasa
           2. Menjadikan anak lebih disiplin.
           3. Menjadikan anak lebih mandiri misalnya mandi sendiri.

D.   Macam – macam Pola Asuh Orang Tua Menurut Baumrind (1967)
           1. Pola asuh Demokratis Pola asuh demokratis adalah pola asuh yangmemprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua tipe ini jugabersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharapyang berlebihan yang melampaui kemampuan anak danmemberikan kebebasan kepada anak untuk memilih danmelakukan suatu tindakan. Pengaruh pola asuh demokratisyaitu akan menghasilkan karakteristik anak-anak yangmandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baikdengan teman-temannya

           2. Pola asuh Otoriter Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang cenderungmenetapkan standar yang mutlak harus dituruti. Orang tuatipe ini cenderung memaksa, memerintah, menghukum.Orang tua mungkin berpendapat bahwa anak memangharus mengikuti aturan yang ditetapkannya.

E.   Kurangnya Perhatian Terhadap Anak
          Kurangnya perhatian mengakibatkan anak mencari perhatian dari luar, misalnya dari teman teman di sekolah maupun teman di lingkungan rumah.Mereka mencari perhatian dengan cara apapun, misalnya dengan cara becanda yang berlebihan, seperti hyperactive. Namun orang tua yang berlebih memberi perhatian berdampak buruk pula bagi anak tersebut, karena anak bisa menjadi tidak mandiri. Mereka akan selalu bergantung pada orang tua mereka.

Kesimpulannya, pola asuh orang tua terbukti mempengaruhi kepribadian anak, kepribadian mereka terbentuk karena cara orang tuanya yang mendidik.


Thursday, 24 October 2013

Penjelasan Contoh Program Sederhana POST 2

import java.util.*;
import java.io.*;
dimana package tersebut di import dari package – package yang sudah ada pada Java.


class masukkan {
Class adalah sebuah konsep OOP yang digunakan untuk mencapsulasi / membungkus data dan abstraksi prosedural yang. Kelas juga merupakan deskripsi tergeneralisir (misal templet, pola, cetak biru) yang menggambarkan kumpulan objek yang sama. Oleh karena itu penamaan sebuah kelas pada java haruslah sama dengan nama file .java nya.


 public static void main(String[] args) {
Dalam pemrograman java, perlu adanya baris program utama yang akan dijalankan pertama kali oleh java atau dibaca pertama kali oleh java, sehingga dibutuhkan void main didalamnya. Lalu karena pada proses compile diuliskan argumen setelah command compile, maka disini harus dideklarasikan argumen tersebut dengan tipe data String array.

 String nama;
 String kelas;
 String jurusan;
String npm;
Pada program input data sederhana ini, dibutuhkan 3 buah variabel yang harus di deklarasikan terlebih dahulu. Karena nama dan kelas terdapat huruf dan numerik maka dideklarasikan sebagai tipe data string, begitu pula dengan npm, karena kebanyakan npm bukan berupa numerik saja, jadi semua dideklarasikan sebagai tipe data string.

 Scanner inpt = new Scanner(System.in);
Proses input harus di deklarasikan, dimana syntax diatas membuat sebuah variabel dengan nama inpt sebagai scanner, bisa dilihat diatas tertulis jelas adanya System.in yang berarti program tersebut membaca sebuah inputan.






System.out.print("Masukan Nama               :");
nama = inpt.nextLine();
System.out.print("Masukan Kelas                 :");
kelas = inpt.nextLine();
System.out.print("Masukan Jurusan                        :");
jurusan = inpt.nextLine();
System.out.print("Masukan NPM                 :");
npm = inpt.nextLine();
Untuk memperindah program yang dibuat, biasanya ada sebuah pertanyaan sebelum adanya inputan, maka dari itu disini dibuatlah sebuah tampilan output pada layar dengan syntax System.out.print yang berfungsi sebagai perintah pada java untuk menampilkan kata atau mencetak kalimat yang kita masukkan didalamnya.
Biasanya setelah pertanyaan pasti ada jawaban (yang berupa inputan pada program) dibutuhkan proses input, dengan variabel yang sudah dibuat lalu dengan bantuan variabel scanner maka proses input akan di simpan kedalam variabel yang sudah dibuat sebelumnya.

 System.out.println("Nama Lengkap      :    "  + nama);
System.out.println("Kelas             :    "  + kelas);
System.out.println("Jurusan           :    "  + jurusan);
System.out.println("Npm               :    "  + npm);
 }
}
Setelah semuanya sudah dibuat dan untuk menampilkan hasil inputan kedalam satu kalimat yang nantinya akan ditampilkan pada layar, maka dibutuhkan lagi System.out.print untuk menampilkannya.

Wednesday, 23 October 2013

Contoh program sederhana




import java.util.*;
import java.io.*;
             
class masukkan {
public static void main(String[]args){
String nama;
String kelas;
String jurusan;
String npm;

Scanner inpt= new Scanner (System.in);
             
            System.out.print("Masukan Nama                  :");
            nama = inpt.nextLine();
            System.out.print("Masukan Kelas                  :");
            kelas = inpt.nextLine();
            System.out.print("Masukan Jurusan               :");
            jurusan = inpt.nextLine();
            System.out.print("Masukan NPM                   :");
            npm = inpt.nextLine();
             
             
            System.out.println("Nama Lengkap      :    "  + nama);
            System.out.println("Kelas             :    "  + kelas);
            System.out.println("Jurusan           :    "  + jurusan);
            System.out.println("Npm               :    "  + npm);
                  }

            }

Sekedar uji coba saja GUNADARMA